Blog

Credibly reintermediate backend ideas for cross-platform models. Continually reintermediate integrated processes through technically sound intellectual capital.
03/Mar/2015

Berpenyakit jantung, penderitanya tak berarti harus membatasi aktivitas sehari-hari. Bahkan, mereka yang pernah menjalani operasi jantung pun masih tetap dianjurkan beraktivitas untuk mengoptimalkan kondisi kesehatannya. “Itu sebabnya pascaoperasi jantung pasien akan diikutkan dalam program fisioterapi,” kata dr Hariadi Hadibrata SpBTKV.

Kalau tidak fisioterapi, tindakan operasi jantung tidak ada gunanya. Pasien harus mengingat pemulihannya merupakan tindakan berkelanjutan. “Mereka harus tetap aktif, namun harus pandai memilah-milah kegiatan yang aman untuk kondisinya,” ujar Hariadi saat media gathering bertajuk “Living with Heart Disease” yang diadakan Bunda Heart Centre di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kembali beraktivitas keluar rumah pun tak ada larangannya. Demikian pula dengan berolahraga. Tentunya kegiatan fisik tersebut aman dilakukan selama masih masuk kategori low impact. Kendati merasa sehat, hindari ajakan untuk berolahraga high impact, seperti tenis, maraton, basket, dan sepak bola. “Kalau suka berenang, golf, atau jalan pagi, silakan saja,” kata dia.

Di samping mempertahankan gerak tubuh aktif, minum obat secara teratur juga termasuk bagian dari terapi. Minum obat secara teratur wajib bagi orang yang sudah menjalani operasi. “Mengingat ada benda asing yang masuk ke tubuh, seperti benang jahit atau katup, minum obat tak boleh disepelekan,” ucap Hariadi. Cek laboratorium pun harus dilakukan sesuai anjuran dokter.

Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Menurut WHO, diperkirakan ada 17,5 juta orang atau 31 persen dari total penduduk dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2012. Dari angka tersebut, 7,4 juta di antaranya merupakan kematian akibat penyakit jantung koroner dan 6,7 juta akibat stroke. Diperkirakan pada 2030, kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat menjadi lebih dari 23 juta jiwa. Sudahkah Anda menjaga kesehatan jantung?

Mempertahankan Kesehatan Jantung

Orang yang memiliki penyakit jantung atau berisiko mengalami penyakit jantung bukan berarti tidak memiliki harapan. Kebanyakan penyakit kardiovaskular bisa dicegah dengan memodifikasi faktor risiko pemicu penyakit kardiovaskular. Caranya ialah dengan berhenti merokok, tak menjalankan diet tidak sehat, menghindari obesitas, tak minum alkohol, dan bergaya hidup aktif.

Dr Dicky Hanafy SpJP(K) mengatakan, penderita penyakit jantung yang berhasil bertahan berarti berhasil mengubah total gaya hidupnya. Mereka mampu menghindari faktor yang membuat penyakitnya bertambah berat atau kambuh. Pemulihan tentunya diawali dari rumah sakit. Umumnya, penderita serangan jantung akan menginap di rumah sakit selama tiga hari hingga sepekan pascaserangan jantung. Tetapi, jika ditemukan komplikasi, perawatannya bisa lebih lama.

Jantung sebagai pemompa darah berdenyut 60 hingga 80 kali per menit saat istirahat. Denyutnya menjadi 120 hingga160 kali per menit saat beraktivitas. Per hari, jantung berdetak hingga 100 ribu kali.

Otot pada jantung merupakan otot yang tidak pernah berhenti bekerja. Jantung mampu memompa darah lima liter per menit atau tujuh ribu liter per hari. Mengingat begitu beratnya kerja jantung, sudah sepantasnya kita menjaga kesehatannya.

Dicky menjelaskan, kondisi gagal jantung yang sering terjadi ialah akibat dari kemampuan pompa jantung yang tidak cukup. Pasien yang mengalami gagal jantung di RS Harapan Kita saja pada 2013 mencapai 1.239 orang. “Dari jumlah itu, setengahnya punya lemah jantung dan sisanya mengalaminya lantaran ketidakseimbangan gaya hidup,” ucap Dicky.

Penyebab gagal jantung beragam. Di antaranya tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, kardiomyopati, miokarditis, kelainan katup jantung, kelainan jantung bawaan, kelainan irama jantung, dan penyakit paru kronis. Ada beberapa gejala yang menunjukkan seseorang mengalami gagal jantung. Penderitanya akan merasa cepat lelah, terbangun dari tidur karena tiba-tiba sesak, sesak saat terlentang, sesak saat beraktivitas, bengkak tungkai bawah, berkurangnya selera makan, dan keluhan perut.

Ketua Yayasan Jantung Indonesia, Syahlina Zuhal, mengatakan penyakit jantung merupakan pembunuh utama di dunia dan Indonesia. Ia berharap pada 2025 kematian dini akibat penyakit jantung bisa berkurang. Di Asia Tenggara setidaknya ada 1,8 juta kematian akibat penyakit jantung pada 2014. “Ini bukan masalah enteng, jangan bersikap abai,” ujarnya memberi saran.

Penderita penyakit jantung wajib menjalankan pola hidup sehat baik yang sudah pernah mengalami serangan jantung maupun yang berisiko. Makanan dan aktivitas fisik sangat penting diperhatikan oleh penderita penyakit jantung. Selain itu, mereka harus menjaga mood tetap stabil dan menghindari depresi yang bisa memperburuk kondisi.

Call Center : 1-500-799


27/Feb/2015

Mendengar kata bedah jantung, banyak orang yang langsung bergidik nyeri. Padahal, kini teknologi bedah jantung semakin canggih dan noninvasifdengan hasil luka kecil. Waktu perawatan di rumah sakit juga makin singkat.

“Di Indonesia sudah sering dokter melakukan operasi yang sifatnya noninvasif. Bukaan lukanya kecil dan sakit yang ditimbulkannya juga kecil jika dibandingkan dengan operasi terbuka,” kata dr. Hariadi Hadibrata, spesialis bedah toraks dan kardiovaskular dalam acara Living with Heart Disease di Jakarta (24/2).

Ia menjelaskan, secara umum ada tiga jenis bedah jantung. Yang pertama adalah operasi pintas pembuluh darah atau biasa disebut bedah bypass. “Tujuan operasi ini membuat saluran darah baru karena yang lama tersumbat,” papar dokter dari Bunda Heart Centre Jakarta ini.

Operasi kedua adalah operasi perbaikan atau ganti katup jantung. Biasanya dilakukan kalau ada kelainan, baik karena infeksi atau rusak, sehingga jantung tidak bisa menutup sempurna. Akibat kondisi ini alirah darah yang seharusnya searah menjadi bolak balik.

Terakhir adalah operasi jantung bawaan yang bertujuan untuk menutup celah dengan selaput yang berasal dari jantung sendiri. Biasanya operasi ini dilakukan pada anak-anak.

Untuk operasi bypass, saat ini sudah bisa dilakukan dengan alat atau mesin yang berfungsi menggantikan fungsi jantung selama proses operasi.

“Alat-alat yang dipakai dalam operasi kini semakin baik, dengan bantuan kamera yang bisa membantu dokter,” kata Hariadi.

Jika dulu operasi bypass dilakukan dengan mengambil pembuluh darah di kaki dengan bekas luka cukup besar, saat ini dokter cukup memasukkan alat dengan membuka luka berdiameter sekitar 2 sentimeter. “Kalau operasi konvensional perlu bukaan sampai 20 cm, dengan noninvasif hanya perlu 1-2 sentimeter,” paparnya.

Selain itu, waktu perawatan di rumah sakit juga berlangsung lebih singkat. “Operasinya mungkin sekitar 3-4 jam, lalu selama 1 sampai 2 hari pasien di ICU dan dua hari pindah ke ruangan untuk menjalani fisioterapi. Setelah itu boleh pulang,” katanya.

 

Call Center : 1-500-799


25/Feb/2015

Bagi para penikmat kopi, tidak ada nikmat yang paling indah selain bisa menyeruput pahitnya kopi di pagi hari. Bahkan rutinitas ini bisa jadi penyemangat seseorang untuk memulai aktivitasnya.

Tak hanya itu, meski pahit, kopi pun tetap digandrungi karena dipercaya bisa memulihkan suasana hati yang sedang risau bagi para pencintanya. Aromanya yang khas pun bisa membangkitkan semangat.

Karenanya, pencinta kopi bisa mengonsumsi lebih dari segelas setiap harinya. Parahnya bisa lebih dari tiga atau lima gelas per hari.

Sekalipun banyak manfaatnya, Anda tetap harus sadar bahwa segala sesuatu yang berlebihan pasti punya efek buruk untuk tubuh. Banyak orang berpendapat bahwa terlalu banyak minum kopi bisa menyebabkan sakit jantung. Benarkah?

Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Bunda Heart Centre, Hariadi Hadibrata, mengatakan kopi tidak menyebabkan penyakit jantung. Kafein pada kopilah yang bisa memengaruhi jantung. Namun ini bukan penyebab utama penyakitnya, melainkan hanya memperparah kondisi orang yang sudah memiliki penyakit jantung.

“Di dalam kopi ada kafein yang membuat denyut jantung lebih cepat. Kalau peminum kopi punya riwayat penyakit jantung koroner, itu bisa berbahaya,” kata Hariadi ketika ditemui usai acara Living With Heart Disease di Hotel Hermitage, Jakarta Pusat.

Dalam kondisi normal, denyut jantung seseorang bisa mencapai 80 denyut/menit, kalau minum kopi bisa sampai 100 denyut/menit. Bagi seseorang yang memiliki penyakit jantung atau penyempitan pembuluh darah, suplai darah ke seluruh tubuh akan berkurang. Namun, konsumsi kopi yang berlebihan akan menyebabkan jantung bekerja lebih cepat dan keras.  Hal inilah yang dapat menyebabkan kondisi berbahaya.

“Itulah sebabnya mengapa orang yang menderita penyakit jantung koroner atau penyempitan pembuluh darah tidak dianjurkan minum kopi secara berlebih,” paparnya.

Hariadi pun menganjurkan, bagi penikmat kopi yang juga memiliki riwayat penyakit jantung harus mengurangi konsumsi kopi per harinya.

“Kalau minum secangkir enggak terlalu berefek. Kalau sudah tiga cangkir, itu bisa berbahaya,” ucapnya.

 

Call Center : 1-500-799


27/Jan/2015

Bagi sebagian masyarakat, ketika mendengar nama Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Jakarta, mungkin yang langsung terlintas di benak adalah rumah sakit yang khusus melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja. Padahal meskipun sama-sama berada di bawah naungan Bunda Medik Healthcare System (BMHS), antara RSU Bunda Jakarta dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda memiliki perbedaan konsep.

Dijelaskan Dr. Didid Winnetouw selaku Kepala RSU Bunda Jakarta, rumah sakit yang berdiri sejak tahun 2012 ini tidak hanya melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja, melainkan juga melayani kesehatan yang lebih umum. Selain itu dalam memberikan pelayanan kesehatan, rumah sakit yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat ini juga selalu mengedepankan fasilitas berbasis teknologi mutakhir.

“Setiap tiga sampai enam bulan sekali, RSU Bunda Jakarta akan mengembangkan pelayanan terbaru. Ini dilakukan untuk semakin mengukuhkan diri sebagai rumah sakit yang tidak hanya melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja,” kata Dr. Didid Winnetouw di RSU Bunda Jakarta, baru-baru ini.

Salah satu layanan unggulan yang dikembangkan RS Bunda Jakarta adalah Senior Clinic, yaitu layanan khusus untuk pasien geriatri atau orang lanjut usia dengan beberapa penyakit dan masalah biopsikososial.

Didid menjelaskan, Senior Clinic RSU Bunda Jakarta memberikan pelayanan kepada para lansia yang memiliki penyakit terkait proses penuaan (degeneratif), mengonsumsi lebih dari enam jenis obat sekaligus, memiliki masalah nutrisi, riwayat jatuh berulang atau kemandirian yang berkurang. Berbagai persoalan tersebut akan ditangani oleh tim ahli yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam ahli geriatri, spesialis saraf, rehabilitasi medik, psikolog, dan ahli lain yang bekerja secara terpadu.

Untuk menangani masalah luka, terutama luka kronik yang tidak kunjung sembuh, RSU Bunda Jakarta membuka Wound Care Unit. Menurut Didid, metode perawatan luka yang dilakukan adalah dengan mengaplikasikan berbagai teknik, bahan perawatan luka, hingga balutan modern untuk memfasilitasi penyembuhan luka yang lebih baik.

Beberapa jenis luka yang umum ditangani seperti luka akibat trauma, luka post operasi yang bermasalah, luka terinfeksi, luka kronis, luka bakar, luka diabetes, luka dekubitus, stoma, dan luka akibat vena statis atau arterial.

Khusus penyakit jantung, rumah sakit ini juga membuka layanan “Bunda Heart Centre” yang didukung oleh peralatan diagnostik canggih dan terkini. Dijelaskan Didid, layanan jantung terpadu ini menyediakan skrining, diagnosis, dan terapi konvensional serta intervensi untuk kondisi-kondisi seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan gangguan irama jantung.

Yang paling mutakhir adalah pengembangan layanan Robotic Surgery yang sudah diperkenalkan RSU Bunda Jakarta sejak 2012. Direktur Pengembangan Produk dan Teknologi PT BundaMedik, yang juga merupakan tim dokter Advanced Robotic and Minimally Invasive Surgery (ARMIS), Ivan R Sini mengungkapkan, Robotic Surgery merupakan pembedahan yang menggunakan teknologi tangan robot yang menjadi kepanjangan tangan dokter bedah. Tindakan ini dinilai lebih efektif, efisien, dan menguntungkan bagi pasien, karena dapat mengurangi luka sayatan dan meningkatkan ketepatan serta akurasi yang tinggi. “Bedah robotik dapat mengurangi risiko cedera, dapat mencakup daerah-daerah yang sulit terlihat, dan meminimalkan trauma pasca operasi,” jelas Ivan.

Keberadaan teknologi ini juga bisa menjadi alternatif bagi pasien bedah yang ingin melakukan bedah robotik di luar negeri. “Daripada ke luar negeri, mengapa tidak melakukannya di Indonesia saja. Kualitas tenaga kesehatan dan kedokteran serta fasilitas kita tidak kalah dari negara lain,” tambah Ivan.

Di RS Bunda Jakarta, kasus operasi yang ditangani dengan bedah robotik antara lain mioma, kista endometriosis, operasi prostat, angkat rahim, kanker rahim, dan pembedahan usus.

 

Call Center : 1-500-799


24/Sep/2013

Selama ini masyarakat sudah mengenal bahwa Rumah Sakit Bunda (RSB) identik dengan rumah sakit khusus ibu dan anak. Tapi kini, sudah ada layanan baru yang dipersembahkan RS Bunda, yaitu layanan khusus penyakit jantung yang diberi nama `Bunda Heart Centre`.

Kepala RSU Bunda, Dr. Didid Winnetouw mengatakan, Bunda Hearth Centre dilengkapi dengan peralatan radiologi dianostik mutakhir, yang didukung sepenuhnya oleh Philips, Mulai dari CT-scan 128 slice, MRI 1,5 Tesla, serta peralatan radiologi standar seperti X-Ray dan USG.

“Selain itu, Bunda Hearth Centre dilengkapi juga dengan catch-lab dan kamar bedah jantung, dengan tingkat sterilisasi tinggi,” kata Didid Winnetouw, dalam acara Grand Opening Bunda Heart Centre di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2013)

Lebih lanjut ia mengatakan, pihak RS Bunda berharap dengan adanya layanan ini, kasus jantung dapat dilayani semaksimal mungkin dengan sistem one stop service. “Artinya, pasien datang mulai dari cek-up, pemeriksaan dasar, tindakan kateterisasi hingga bedah terbuka dan perawatan ICCU bisa dilakukan di sini,” tambah dia.

Untuk tindakan operasinya sendiri, Spesialis Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV mengatakan, RS Bunda akan melakukan beberapa tindakan operasi. Mulai dari by pass, penggantian katut (katut mitral dan aorta) sampai melakukan operasi jantung pada anak-anak.

“Kelainan jantung pada anak-anak yang dimaksud yaitu kelainan jantung bawaan. Selain itu, kebocoran pada jantung juga,” jelas Hariadi.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian terbesar di dunia saat ini disebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Pada tahun 2002, sepertiga kematian di seluruh dunia disebabkan penyakit kardiovaskular. Bahkan di negara maju, dapat mencapai setengahnya.

Penyakit jantung dapat disebabkan karena kelainan bawaan, penyakit jantung rematik, hipertensi atau penyakit paru.

 

Call Center : 1-500-799


24/Sep/2013

ATLET sepak bola atau jenis olahraga tertentu sering mengalami serangan jantung di lapangan. Apa sesungguhnya yang menjadi penyebab utama?

Alasannya, kondisi itu terjadi karena aktivitas fisik yang berlebihan. Hal ini sesuai pernyataan Dr. Dicky Hanafy, SpJP, spesialis jantung dan pembuluh darah dari Bunda Heart Centre, RSU Bunda. Dia menjelaskan, latihan berlebihan memicu pengembangan organ jantung yang terlalu melebar, sehingga oksigen yang seharusnya didapat otot jantung jadi tak berhenti. Alhasil, seseorang mengalami serangan jantung.

“Pada prinsipnya, risiko ini bisa terjadi pada semua jenis olahraga. Karena seperti halnya otot dalam tubuh, bila mereka dilatih, otot akan berkembang juga. Dan begitu juga yang terjadi pada otot jantung, otot bila sering dilatih akan jadi tebal dan itu bagus. Tapi saat seseorang melakukan aktivitas fisik berlebihan hingga otot jantung menebal dan terlalu melebar. Inilah yang bahaya, di mana oksigen yang harusnya diterima otot jantung jadi tak diterima. Sehingga menimbulkan gangguan pada jantung,” katanya di Multi Function Room Plaza Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (24/9/2013)

Dr. Dicky menambahkan, kondisi itu juga biasanya terjadi karena faktor genetik yang berperan. Sehingga menyebabkan kematian pada atlet ataupun seseorang.

 

Call Center : 1-500-799


24/Sep/2013

Ciri-ciri serangan jantung pada wanita kerap kali tidak spesifik. Tanda ini tidak selalu berwujud nyeri seperti tertekan di dada kiri, yang kemudian menyebar ke lengan, punggung, atau leher, layaknya pada pria. Pada beberapa kasus, serangan jantung pada wanita tampak seperti gejala sakit maag. Penderita merasa mual, ingin muntah, dan nyeri pada lambung layaknya sakit maag.

Sementara ada juga yang merasa nyeri di dada kiri yang kemudian menyebar ke leher dan punggung, tetapi mengartikannya sebagai gejala keganasan payudara. “Tanda serangan jantung pada wanita memang tidak spesifik. Karena itu, bila obat maag atau pereda nyeri yang diberikan tidak segera memberi efek positif, segera lakukan elektrokardiograf (EKG) atau pengukuran enzim jantung,” kata dr Erick Purba SpPD dari Bunda Heart Centre dari RS Bunda Jakarta, pada acara Heart Festival, di Jakarta Selasa (24/9/2013).

Menurut Erick, waktu dua hari sudah cukup untuk menilai apakah obat maag dan pereda nyeri memberi efek positif sebelum dilakukan EKG atau pemeriksaan enzim jantung. Kondisi ini biasanya disertai nyeri yang bertambah kuat, disertai keringat dingin. Penderita juga merasa lemah dan sesak napas yang semakin berat. Pada kondisi tersebut, biasanya pasien segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat dengan diagnosis serangan jantung. Sebuah penelitian menyatakan, 43 persen wanita yang mengalami serangan jantung tidak menunjukkan gejala yang khas.

Erick mencontohkan, pada kasus serangan jantung yang  mirip sakit maag, kemungkinan yang terserang adalah jantung bagian bawah (inferior). Bagian ini relatif lebih dekat dibanding jantung bagian posterior. Penelitian juga menunjukkan, gejala yang kerap ditemukan pada wanita yang mengalami serangan jantung adalah napas pendek atau sesak, lemah, dan letih tanpa tahu penyebabnya. Gejala tersebut disertai tanda yang mirip gangguan pencernaan seperti mual, nyeri pada ulu hati, perut sesak, dan nyeri pada punggung belakang. Meski begitu, tidak semua gangguan pencernaan dimaknai serangan jantung. Pada beberapa kasus, rasa mual ternyata memang bagian dari gangguan lambung, yang disebut gastroesophageal reflux disease (GERD).

Hal ini bergantung pada faktor risiko yang dimiliki wanita “Tetap harus dilihat apakah wanita memiliki faktor risiko seperti turunan, usia, obesitas, hipertensi, kelebihan koleserol, diabetes, stres, dan merokok. Wanita dengan faktor risiko tersebut, harus menyikapi gangguan pencernaan yang dialami dengan lebih hati-hati,” katanya. Erick menyarankan wanita dengan faktor risiko tersebut menjalani pola hidup sehat untuk menjaga kesehatan jantung. Pola ini meliputi rutin makan buah dan sayur 3 porsi sehari, rajin berolahraga 15-30 menit sehari, tidak merokok, dan membatasi konsumsi alkohol.

 

Call Center : 1-500-799


08/Jul/2013

Serangan jantung seringkali muncul tiba-tiba dan bisa mematikan. Pasien harus berpacu dengan waktu guna menyelamatkan nyawanya. Di daerah perkotaan yang sering macet, kondisi lalu lintas acapkali menjadi kendala. Lalu apa yang bisa dilakukan saat kondisi darurat?

“Kalau pasien sampai pingsan dan henti jantung ya perlu CPR (Cardiopulmonary resuscitation). Tapi jika tidak ada training sebelumnya, susah. Apalagi di kita (Indonesia), training CPR itu hampir nol,” kata dr Dicky Hanafi, SpJP(K), FIHA, dokter spesialis jantung di RS Bunda, Jakarta.

Dalam acara Medical Gathering dan Soft Launching Bunda Heart Centre yang diselenggarakan di RS Bunda, Menteng, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Senin (8/7/2013), dr Dicky menjelaskan bahwa di negara-negara maju, traning CPR sudah menjadi syarat untuk mendapat SIM. Berbeda dengan Indonesia yang untuk mendapat SIM-pun pemohon masih bisa ‘nembak’.

“Sedangkan untuk awam, umumnya tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan pasien serangan jantung, justru bisa membuat pasien terlambat penanganannya dibawa ke tempat perawatan yang tepat,” terang dr Dicky.

Oleh karena itu, dr Dicky berpendapat bahwa lebih baik upaya difokuskan pada mencari cara dan transportasi untuk membawa pasien ke rumah sakit secepatnya. Biasanya beberapa rumah sakit memiliki emergency team. Mungkin ini yang perlu dibikin kerja sama dengan kantor agar bisa mendapat pelayanan yang cepat.

“Pelaksanaan CPR susah untuk orang awam. Kita bisa siapkan oksigen dulu untuk penanganan awal. Jadi sebaiknya siapkan oksigen di kantor. Karena jantung kekurangan oksigen, diharapkan ada bagian tubuh yang mendapat oksigen lebih cepat,” urainya.

Pemberian kursus CPR sebenarnya amat diperlukan. Bagi masyarakat luas, hal ini berguna karena bisa digunakan untuk membantu sesama. Sayang, edukasi pentingnya penanganan pasien gawat darurat di Indonesia masih amat minim. Tapi bagi mereka yang ingin berlatih, bisa mengikuti kursus di palang merah dan rumah sakit.

Sedangkan pada pasien jantung, yang perlu digaris bawahi adalah tak ada yang bisa memprediksi berapa lama pasien bisa bertahan. Jika serangan yang terjadi cukup besar, pasien bisa saja langsung meninggal. Namun, tak sedikit pula pasien yang masih bisa diselamatkan, asal mendapat penanganan dokter secepatnya.

“Waktu 12 jam itu waktu maksimal bagi orang yang masih bertahan hidup dari serangan jantung. Setelah itu, kerusakan jantungnya sudah permanen sehingga hidupnya juga akan kurang baik,” ungkap dr Dicky.

Penanganan terbaik bagi pasien serangan jantung adalah di bawah 3 jam, sebab umumnya kerusakan masih bisa diperbaiki dengan hampir sempurna. Pada waktu 6 jam setelah terjadi serangan, kerusakannya masih sedikit.

“Tapi di atas 12 jam, umumnya pasien sudah terkena gagal jantung atau lemah jantung. Jadi bukan hanya masalah menyelamatkan nyawa saja. Kalau penanganan jantungnya terlambat, sampai gagal jantung, lemah jantung dan jalan sedikit sudah sesak, kasihan sekali pasiennya,” kata dr Dicky.

 

Call Center : 1-500-799




Saving Lives With BUNDA





Saving Lives With BUNDA





1-500-799


24/7 EMERGENCY NUMBER

Hubungi kami sekarang jika Anda dalam kebutuhan darurat medis, kami akan menjawab dengan cepat dan memberi Anda bantuan medis.




Copyright by Bunda Heart Centre 2019 – BMHS1973



Copyright by Bunda Heart Centre 2019 – BMHS1973