Blog

Credibly reintermediate backend ideas for cross-platform models. Continually reintermediate integrated processes through technically sound intellectual capital.
24/Sep/2013

ATLET sepak bola atau jenis olahraga tertentu sering mengalami serangan jantung di lapangan. Apa sesungguhnya yang menjadi penyebab utama?

Alasannya, kondisi itu terjadi karena aktivitas fisik yang berlebihan. Hal ini sesuai pernyataan Dr. Dicky Hanafy, SpJP, spesialis jantung dan pembuluh darah dari Bunda Heart Centre, RSU Bunda. Dia menjelaskan, latihan berlebihan memicu pengembangan organ jantung yang terlalu melebar, sehingga oksigen yang seharusnya didapat otot jantung jadi tak berhenti. Alhasil, seseorang mengalami serangan jantung.

“Pada prinsipnya, risiko ini bisa terjadi pada semua jenis olahraga. Karena seperti halnya otot dalam tubuh, bila mereka dilatih, otot akan berkembang juga. Dan begitu juga yang terjadi pada otot jantung, otot bila sering dilatih akan jadi tebal dan itu bagus. Tapi saat seseorang melakukan aktivitas fisik berlebihan hingga otot jantung menebal dan terlalu melebar. Inilah yang bahaya, di mana oksigen yang harusnya diterima otot jantung jadi tak diterima. Sehingga menimbulkan gangguan pada jantung,” katanya di Multi Function Room Plaza Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (24/9/2013)

Dr. Dicky menambahkan, kondisi itu juga biasanya terjadi karena faktor genetik yang berperan. Sehingga menyebabkan kematian pada atlet ataupun seseorang.

 

Call Center : 1-500-799


24/Sep/2013

Ciri-ciri serangan jantung pada wanita kerap kali tidak spesifik. Tanda ini tidak selalu berwujud nyeri seperti tertekan di dada kiri, yang kemudian menyebar ke lengan, punggung, atau leher, layaknya pada pria. Pada beberapa kasus, serangan jantung pada wanita tampak seperti gejala sakit maag. Penderita merasa mual, ingin muntah, dan nyeri pada lambung layaknya sakit maag.

Sementara ada juga yang merasa nyeri di dada kiri yang kemudian menyebar ke leher dan punggung, tetapi mengartikannya sebagai gejala keganasan payudara. “Tanda serangan jantung pada wanita memang tidak spesifik. Karena itu, bila obat maag atau pereda nyeri yang diberikan tidak segera memberi efek positif, segera lakukan elektrokardiograf (EKG) atau pengukuran enzim jantung,” kata dr Erick Purba SpPD dari Bunda Heart Centre dari RS Bunda Jakarta, pada acara Heart Festival, di Jakarta Selasa (24/9/2013).

Menurut Erick, waktu dua hari sudah cukup untuk menilai apakah obat maag dan pereda nyeri memberi efek positif sebelum dilakukan EKG atau pemeriksaan enzim jantung. Kondisi ini biasanya disertai nyeri yang bertambah kuat, disertai keringat dingin. Penderita juga merasa lemah dan sesak napas yang semakin berat. Pada kondisi tersebut, biasanya pasien segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat dengan diagnosis serangan jantung. Sebuah penelitian menyatakan, 43 persen wanita yang mengalami serangan jantung tidak menunjukkan gejala yang khas.

Erick mencontohkan, pada kasus serangan jantung yang  mirip sakit maag, kemungkinan yang terserang adalah jantung bagian bawah (inferior). Bagian ini relatif lebih dekat dibanding jantung bagian posterior. Penelitian juga menunjukkan, gejala yang kerap ditemukan pada wanita yang mengalami serangan jantung adalah napas pendek atau sesak, lemah, dan letih tanpa tahu penyebabnya. Gejala tersebut disertai tanda yang mirip gangguan pencernaan seperti mual, nyeri pada ulu hati, perut sesak, dan nyeri pada punggung belakang. Meski begitu, tidak semua gangguan pencernaan dimaknai serangan jantung. Pada beberapa kasus, rasa mual ternyata memang bagian dari gangguan lambung, yang disebut gastroesophageal reflux disease (GERD).

Hal ini bergantung pada faktor risiko yang dimiliki wanita “Tetap harus dilihat apakah wanita memiliki faktor risiko seperti turunan, usia, obesitas, hipertensi, kelebihan koleserol, diabetes, stres, dan merokok. Wanita dengan faktor risiko tersebut, harus menyikapi gangguan pencernaan yang dialami dengan lebih hati-hati,” katanya. Erick menyarankan wanita dengan faktor risiko tersebut menjalani pola hidup sehat untuk menjaga kesehatan jantung. Pola ini meliputi rutin makan buah dan sayur 3 porsi sehari, rajin berolahraga 15-30 menit sehari, tidak merokok, dan membatasi konsumsi alkohol.

 

Call Center : 1-500-799


08/Jul/2013

Serangan jantung seringkali muncul tiba-tiba dan bisa mematikan. Pasien harus berpacu dengan waktu guna menyelamatkan nyawanya. Di daerah perkotaan yang sering macet, kondisi lalu lintas acapkali menjadi kendala. Lalu apa yang bisa dilakukan saat kondisi darurat?

“Kalau pasien sampai pingsan dan henti jantung ya perlu CPR (Cardiopulmonary resuscitation). Tapi jika tidak ada training sebelumnya, susah. Apalagi di kita (Indonesia), training CPR itu hampir nol,” kata dr Dicky Hanafi, SpJP(K), FIHA, dokter spesialis jantung di RS Bunda, Jakarta.

Dalam acara Medical Gathering dan Soft Launching Bunda Heart Centre yang diselenggarakan di RS Bunda, Menteng, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Senin (8/7/2013), dr Dicky menjelaskan bahwa di negara-negara maju, traning CPR sudah menjadi syarat untuk mendapat SIM. Berbeda dengan Indonesia yang untuk mendapat SIM-pun pemohon masih bisa ‘nembak’.

“Sedangkan untuk awam, umumnya tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan pasien serangan jantung, justru bisa membuat pasien terlambat penanganannya dibawa ke tempat perawatan yang tepat,” terang dr Dicky.

Oleh karena itu, dr Dicky berpendapat bahwa lebih baik upaya difokuskan pada mencari cara dan transportasi untuk membawa pasien ke rumah sakit secepatnya. Biasanya beberapa rumah sakit memiliki emergency team. Mungkin ini yang perlu dibikin kerja sama dengan kantor agar bisa mendapat pelayanan yang cepat.

“Pelaksanaan CPR susah untuk orang awam. Kita bisa siapkan oksigen dulu untuk penanganan awal. Jadi sebaiknya siapkan oksigen di kantor. Karena jantung kekurangan oksigen, diharapkan ada bagian tubuh yang mendapat oksigen lebih cepat,” urainya.

Pemberian kursus CPR sebenarnya amat diperlukan. Bagi masyarakat luas, hal ini berguna karena bisa digunakan untuk membantu sesama. Sayang, edukasi pentingnya penanganan pasien gawat darurat di Indonesia masih amat minim. Tapi bagi mereka yang ingin berlatih, bisa mengikuti kursus di palang merah dan rumah sakit.

Sedangkan pada pasien jantung, yang perlu digaris bawahi adalah tak ada yang bisa memprediksi berapa lama pasien bisa bertahan. Jika serangan yang terjadi cukup besar, pasien bisa saja langsung meninggal. Namun, tak sedikit pula pasien yang masih bisa diselamatkan, asal mendapat penanganan dokter secepatnya.

“Waktu 12 jam itu waktu maksimal bagi orang yang masih bertahan hidup dari serangan jantung. Setelah itu, kerusakan jantungnya sudah permanen sehingga hidupnya juga akan kurang baik,” ungkap dr Dicky.

Penanganan terbaik bagi pasien serangan jantung adalah di bawah 3 jam, sebab umumnya kerusakan masih bisa diperbaiki dengan hampir sempurna. Pada waktu 6 jam setelah terjadi serangan, kerusakannya masih sedikit.

“Tapi di atas 12 jam, umumnya pasien sudah terkena gagal jantung atau lemah jantung. Jadi bukan hanya masalah menyelamatkan nyawa saja. Kalau penanganan jantungnya terlambat, sampai gagal jantung, lemah jantung dan jalan sedikit sudah sesak, kasihan sekali pasiennya,” kata dr Dicky.

 

Call Center : 1-500-799




Saving Lives With BUNDA





Saving Lives With BUNDA





1-500-799


24/7 EMERGENCY NUMBER

Hubungi kami sekarang jika Anda dalam kebutuhan darurat medis, kami akan menjawab dengan cepat dan memberi Anda bantuan medis.




Copyright by Bunda Heart Centre 2019 – BMHS1973



Copyright by Bunda Heart Centre 2019 – BMHS1973