Blog

Credibly reintermediate backend ideas for cross-platform models. Continually reintermediate integrated processes through technically sound intellectual capital.
img-gallery-14-1200x800.jpg
28/Sep/2017

Inilah beberapa faktor resiko penyakit jantung . Empat faktor pertama tidak dapat Anda kendalikan, sementara delapan sisanya dapat Anda kendalikan.

1. Umur

Lebih dari 83% orang yang meninggal karena penyakit jantung koroner berusia 65 tahun ke atas. Wanita lebih berisiko meninggal karena serangan jantung dalam beberapa minggu setelah serangan dibandingkan laki-laki.

2. Laki-laki

Laki-laki lebih berisiko mengalami serangan jantung dibandingkan perempuan dan mengalaminya pada usia yang lebih muda. Setelah menopause, angka kematian wanita karena serangan jantung meningkat, tetapi tetap tidak setajam peningkatan pada laki-laki.

3. Riwayat Keluarga

Mereka yang memiliki riwayat keluarga atau saudara dekat berpenyakit jantung cenderung lebih berisiko mengidapnya.

4. Merokok

Merokok meningkatkan risiko penyakit jantung dua hingga empat kali lipat.

5. Kolesterol Tinggi

Risiko penyakit jantung koroner meningkat seiring peningkatan kadar kolesterol darah: memiliki LDL (“kolesterol jahat”) tinggi dan HDL (“kolesterol baik”) yang rendah.

6. Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah tinggi meningkatkan beban jantung, membuat jantung menebal dan kaku, dan meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan gagal jantung. Bila tekanan darah tinggi diiringi dengan obesitas, merokok, kolesterol tinggi atau diabetes, risiko serangan jantung meningkat berkali-kali lipat.

7. Gaya Hidup Kurang Gerak

Kurang bergerak badan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

8. Kegemukan

Orang yang kegemukan (lebih dari 20% berat badan ideal) cenderung berisiko penyakit jantung dan stroke, bahkan bila mereka tidak memiliki faktor risiko lainnya.

9. Diabetes

Memiliki diabetes meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler. Sekitar tiga perempat penderita diabetes meninggal karena sejenis penyakit jantung atau pembuluh darah.

10. Stres dan Kemarahan

Stres dan kemarahan yang tidak terkendali dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.

11. Minum Alkohol

Banyak meminum alkohol dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan gagal jantung dan stroke. Meminum alkohol juga dapat meningkatkan trigliserida, menyebabkan kanker dan detak jantung tidak beraturan.

 

Call Center : 1-500-799


img-gallery-22-1200x800.jpg
19/Agu/2016

Anda menderita penyakit jantung dan Anda harus melakukan operasi jantung? Jangan sampai dokter mengatakan itu kepada Anda atau anggota keluarga yang Anda sayang.

Jantung, isu abadi sekaligus penting. Tahun lalu, kami menurunkan artikel pertolongan pertama untuk penderita jantung. Isu penting lainnya yang patut diketahui: tiga jenis operasi yang kemungkinan akan dijalani mereka yang hidup dengan penyakit jantung. Semoga bermanfaat.

Tiga Model Operasi, Apa Saja?

Pekan lalu kami berbincang dengan dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV dari Bunda Heart Centre, Jakarta, terkait tiga pembedahan jantung yang (mungkin) akan dijalani oleh mereka yang hidup dengan penyakit jantung. Hariadi lantas menjabarkan pembedahan jantung sebagai berikut:

  1. Operasi pintas pembuluh darah (coronary artery bypass graft surgery)

Operasi ini membuat saluran darah baru, karena saluran darah yang lama tersumbat. Pembuluh darah baru dibuat, lalu disambungkan sehingga peredaran darah di saluran kembali lancar. Coronary berasal dari kata coroner, yakni arteri di jantung yang bertugas memberi nutrisi kepada organ jantung. Kalau tersumbat, jantung tidak mendapat asupan dan akhirnya rusak.

Pertanyaannya, dari mana pembuluh darah yang baru itu didapat? “Bisa diambil dari pembuluh darah tangan, kaki, dada, atau bagian tubuh Anda yang lain lalu dijahitkan ke area pembuluh darah yang membutuhkan. Caranya, dengan menghentikan jantung sementara. Untuk membuat jantung berhenti berdetak itu gampang. Namun membuat jantung berdenyut kembali, itu susah,” Hariadi menjelaskan. Ketika menghentikan jantung dan kita perlu alat yang disebut heart-lung machine. Mesin ini menggantikan fungsi jantung dan paru-paru selama operasi.

Heart-lung machine mengalirkan darah ke otak, ginjal, dan sejumlah organ penting lain. Ia akan mengambil seluruh darah dari badan, dimasukkan ke mesin, diproses, kemudian dialirkan lagi ke seluruh tubuh. Setelah operasi selesai, jantung akan kembali berdenyut.

Operasi juga bisa ditempuh dengan kondisi jantung tetap berdenyut. Salah satunya, dengan alat bernama Octopus. Di ujung-ujung Octopus ada sistem pengisap yang ditempelkan ke jantung lalu jantung dimanipulasi agar tetap berdenyut. Bagian Octopus lain dipakai untuk menstabilkan denyut jantung pasien selama operasi.

  1. Operasi perbaikan atau penggantian katup jantung (value repair or replacement surgery)

Katup jantung yang normal tertutup rapat. Fungsinya membuat aliran darah satu arah. Kalau bolak-balik, aliran darah hanya akan berputar-putar di sekitar jantung. Itu sebabnya katup harus tertutup sempurna. Kalau terjadi kelainan yang dipicu infeksi misalnya, katup tidak akan menutup sempurna.

Atau, selaput jaring katup akan mengalami kerusakan kemudian terputus. Katup kiri dan kanan tidak mengatup menjadi satu. Atau, jantung membengkak sehingga katup tidak mampu menutup sempurna karena tidak lagi sesuai dengan ukuran jatung.

“Jika ini terjadi, maka katup harus diperbaiki. Kalau tidak bisa diperbaiki, harus diganti. Ketika Anda mengalami kerusakan katup, Anda punya banyak pilihan model katup yang baru. Anda bisa menggantinya dengan katup mekanik dari titanium atau dari selaput katup sapi atau (maaf) babi. Anda juga bisa melalukan perbaikan katup dengan konsultasi kepada dokter,” ujar dokter yang menjadi narasumber talk show “Living with Heart Disease” itu.

  1. Operasi kelainan jantung bawaan

Umumnya ada dua jenis yakni, atrial septal defect (ASD) dan ventricular (ventrikel) septal defect (VSD). Masih ingatkah Anda dengan pelajaran biologi ketika SMA? Ada empat ruang di jantung kita: serambi kanan, serambi kiri, bilik kanan, dan bilik kiri.

Semua yang di kiri mengalirkan darah yang bersih. Semua yang di sisi kanan membawa darah kotor. Jangan sampai tercampur.

“Pada kasus ASD terdapat celah di antara serambi kanan dan serambi kiri sehingga darah bersih dan kotor bercampur. Akibatnya, jantung mengalami kelainan. Sementara VSD menimpa bilik. Bayangkan Anda mandi, keran yang mengalirkan air bersih dan kotor menjadi satu. Selama apa pun Anda mandi enggak akan pernah bersih. Itulah yang menimpa jantung kita,” paparnya.

 

Call Center : 1-500-799


img-blog-post-02-1200x800.jpg
26/Agu/2015

Bypass atau angioplasti kini menjadi pilihan baru yang menarik bagi penyembuhan penyakit jantung koroner di Indonesia. Namun, Anda mungkin bingung untuk memilih salah satunya. Pasalnya, bypass dan angioplasty memiliki keunggulan dan kekurangan. Lalu seperti apakah dua metode ini?

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengobati penyakit jantung koroner di bidang medis. Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang disebabkan penyempitan pembuluh darah jantung (arteri koroner). Penyempitan tersebut terjadi karena adanya kerak (plak) pada dinding pembuluh darah jantung. Akibatnya, aliran darah ke jantung berkurang.

Rasa nyeri di dada yang menjalar ke leher dan lengan sebelah kiri harus diwaspadai sejak dini. Nyeri seperti ditekan ini merupakan gejala awal penyakit jantung koroner. Sakit ini bisa berlangsung selama beberapa menit dan hilang ketika beristirahat. Kondisi ini disebut angina stabil. Ketika sakit terasa lebih sering, berat dan lama, kondisi tersebut telah berpindah ke angina tak stabil. Situasi ini adalah kondisi sebelum terjadinya serangan jantung. Namun sering kali serangan jantung terjadi secara mendadak, tanpa gejala apapun sebelumnya.

Kerak pada pembuluh darah jantung tak lain dikarenakan pola hidup seseorang yang salah. Kadar kolesterol total (LDL) yang tinggi, kadar kolesterol (HDL) rendah, tekanan darah tinggi, diabetes, merokok, kurang olahraga, kegemukan, keturunan, umur dan stres menjadi penyebab penyakit jantung koroner. Oleh sebab itu penting sekali menerapkan pola hidup yang sehat agar tidak mudah terserang penyakit. Akan tetapi ketika tindak pencegahan tidak lagi mampu mengatasi penyakit, tindakan lainnya seperti operasi terkadang harus ditempuh. Dalam mengatasi jantung koroner, ada dua metode yang biasa digunakan. Metode tersebut adalah bypass, dan angioplasti.

BYPASS

Bypass atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG) adalah operasi membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau kerusakan. Mudahnya, membangun jalan pintas. Kurangnya pasokan darah serta oksigen akibat penyempitan pembuluh darah tersebut pun dapat teratasi. Biasanya saluran baru diambil dari pembuluh darah balik di tungkai bawah. Contohnya vena saphena. Tapi dapat juga diperoleh dari pembuluh nadi di tangan seperti arteri radialis atau arteri brachialis.

ANGIOPLASTI

Selain bypass, angioplasti dapat menjadi pilihan mengatasi jantung koroner. Berbeda dengan bypass yang perlu dilakukan pembukaan dada, angioplasty hanya memerlukan dua sayatan kecil. Sayatan kecil itu dilakukan di kulit pangkal paha atau pergelangan lengan. Bius pun hanya bius lokal. Kateter lalu diselipkan melalui sayatan tersebut ke pembuluh koroner. Dengan petunjuk sinar X, dimasukkan kawat kecil lentur pada kateter. Lewat kawat itu diselipkan balon yang dapat dikembang kempiskan. Di lokasi penyempitan, balon dikembangkan hingga penyempitan terbuka dengan tekanan tertentu. Setelahnya, balon dikempiskan dan dikeluarkan.

Tindakan ini biasanya dilanjutkan dengan pemasangan cincin penyangga (stent). Umumnya terbuat dari baja anti karat, stent berfungsi menekan terjadinya penyempitan ulang. Ukurannya ada berbagai macam, dari 2,25 sampai empat milimeter. Ada yang bentuknya bergulung-gulung atau sangkar. Kini metode stent di bidang kedokteran telah mengalami perkembangan. Stent dilapisi obat untuk mencegah tumbuhnya jaringan baru. Contohnya, Sirolimus dan Paclitaxel.

DUA METODE, MANA LEBIH BAIK?

Dalam mengobati penyakit jantung koroner, bypass dan angioplasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua tergantung pada jumlah pembuluh yang terlibat, lokasi dan karakter penyempitan, fungsi jantung, penyakit penyerta, usia serta biaya.

Metode bypass lebih cocok dipakai ketika penyumbatan terjadi pada lebih dari tiga pembuluh darah. Atau terjadi di pembuluh utama kiri. Dari segi waktu pun tidak bersahabat bagi penderita yang ingin cepat keluar dari rumah sakit. Namun pada bypass, peluang terjadinya penyempitan lagi lebih kecil dibanding angioplasti.

“Jika di dalam pembuluh darah itu terdapat tiga atau lebih yang bermasalah, maka kita rekomendasikan untuk bypass. Atau hanya satu pembuluh darah namun memiliki sumbatan yang panjang. Itu lebih baik kita lakukan bypass. Tetapi kalau hanya satu dan panjang sumbatan hanya satu hingga lima centimeter , maka kita lakukan pemasangan ring,” tandas dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV.

Tambah Hariadi, selain faktor sumbatan, pemilihan metode juga melihat faktor usia, kompetensi dokter, dan tentunya cost.

“Pasien dengan usia 80 tahun, sebaiknya kita pasang stent daripada bypass. Karena nanti akan berisiko. Kompetensi dokter dan kondisi pasien perlu diperhatikan. Pada umumnya kita juga melihat cost effetive-nya. jika kita pasang lebih dari tiga stent, lebih baik bypass,” jelasnya.

Angioplasti sering menjadi pilihan bagi penderita yang takut tindakan operasi. Cukup dengan bius lokal, operasi ini berlangsung cepat. Risiko komplikasi yang terjadi relatif lebih rendah. Namun dengan cara ini besar kemungkinan penyempitan kembali terjadi. Selain itu angioplasty kurang efektif pada penderita diabetes yang memiliki dua atau lebih penyumbatan pembuluh darah.

“Pemasangan stent dan bypass bukan untuk saling menggantikan. Jadi ada beberapa kriteria yang harus kita lakukan. Apakah itu untuk bypass atau pasang stent. Kalau menguntungkan operasi, risiko lebih rendah efektivitas lebih tinggi, kita lakukan operasi. karena untuk jangka panjang kita membentuk saluran baru itu lebih efektivitas, dibandingkan yang lama kita buka-buka,” akhirnya.

Call Center : 1-500-799


03/Mar/2015

Berpenyakit jantung, penderitanya tak berarti harus membatasi aktivitas sehari-hari. Bahkan, mereka yang pernah menjalani operasi jantung pun masih tetap dianjurkan beraktivitas untuk mengoptimalkan kondisi kesehatannya. “Itu sebabnya pascaoperasi jantung pasien akan diikutkan dalam program fisioterapi,” kata dr Hariadi Hadibrata SpBTKV.

Kalau tidak fisioterapi, tindakan operasi jantung tidak ada gunanya. Pasien harus mengingat pemulihannya merupakan tindakan berkelanjutan. “Mereka harus tetap aktif, namun harus pandai memilah-milah kegiatan yang aman untuk kondisinya,” ujar Hariadi saat media gathering bertajuk “Living with Heart Disease” yang diadakan Bunda Heart Centre di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kembali beraktivitas keluar rumah pun tak ada larangannya. Demikian pula dengan berolahraga. Tentunya kegiatan fisik tersebut aman dilakukan selama masih masuk kategori low impact. Kendati merasa sehat, hindari ajakan untuk berolahraga high impact, seperti tenis, maraton, basket, dan sepak bola. “Kalau suka berenang, golf, atau jalan pagi, silakan saja,” kata dia.

Di samping mempertahankan gerak tubuh aktif, minum obat secara teratur juga termasuk bagian dari terapi. Minum obat secara teratur wajib bagi orang yang sudah menjalani operasi. “Mengingat ada benda asing yang masuk ke tubuh, seperti benang jahit atau katup, minum obat tak boleh disepelekan,” ucap Hariadi. Cek laboratorium pun harus dilakukan sesuai anjuran dokter.

Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Menurut WHO, diperkirakan ada 17,5 juta orang atau 31 persen dari total penduduk dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2012. Dari angka tersebut, 7,4 juta di antaranya merupakan kematian akibat penyakit jantung koroner dan 6,7 juta akibat stroke. Diperkirakan pada 2030, kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat menjadi lebih dari 23 juta jiwa. Sudahkah Anda menjaga kesehatan jantung?

Mempertahankan Kesehatan Jantung

Orang yang memiliki penyakit jantung atau berisiko mengalami penyakit jantung bukan berarti tidak memiliki harapan. Kebanyakan penyakit kardiovaskular bisa dicegah dengan memodifikasi faktor risiko pemicu penyakit kardiovaskular. Caranya ialah dengan berhenti merokok, tak menjalankan diet tidak sehat, menghindari obesitas, tak minum alkohol, dan bergaya hidup aktif.

Dr Dicky Hanafy SpJP(K) mengatakan, penderita penyakit jantung yang berhasil bertahan berarti berhasil mengubah total gaya hidupnya. Mereka mampu menghindari faktor yang membuat penyakitnya bertambah berat atau kambuh. Pemulihan tentunya diawali dari rumah sakit. Umumnya, penderita serangan jantung akan menginap di rumah sakit selama tiga hari hingga sepekan pascaserangan jantung. Tetapi, jika ditemukan komplikasi, perawatannya bisa lebih lama.

Jantung sebagai pemompa darah berdenyut 60 hingga 80 kali per menit saat istirahat. Denyutnya menjadi 120 hingga160 kali per menit saat beraktivitas. Per hari, jantung berdetak hingga 100 ribu kali.

Otot pada jantung merupakan otot yang tidak pernah berhenti bekerja. Jantung mampu memompa darah lima liter per menit atau tujuh ribu liter per hari. Mengingat begitu beratnya kerja jantung, sudah sepantasnya kita menjaga kesehatannya.

Dicky menjelaskan, kondisi gagal jantung yang sering terjadi ialah akibat dari kemampuan pompa jantung yang tidak cukup. Pasien yang mengalami gagal jantung di RS Harapan Kita saja pada 2013 mencapai 1.239 orang. “Dari jumlah itu, setengahnya punya lemah jantung dan sisanya mengalaminya lantaran ketidakseimbangan gaya hidup,” ucap Dicky.

Penyebab gagal jantung beragam. Di antaranya tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, kardiomyopati, miokarditis, kelainan katup jantung, kelainan jantung bawaan, kelainan irama jantung, dan penyakit paru kronis. Ada beberapa gejala yang menunjukkan seseorang mengalami gagal jantung. Penderitanya akan merasa cepat lelah, terbangun dari tidur karena tiba-tiba sesak, sesak saat terlentang, sesak saat beraktivitas, bengkak tungkai bawah, berkurangnya selera makan, dan keluhan perut.

Ketua Yayasan Jantung Indonesia, Syahlina Zuhal, mengatakan penyakit jantung merupakan pembunuh utama di dunia dan Indonesia. Ia berharap pada 2025 kematian dini akibat penyakit jantung bisa berkurang. Di Asia Tenggara setidaknya ada 1,8 juta kematian akibat penyakit jantung pada 2014. “Ini bukan masalah enteng, jangan bersikap abai,” ujarnya memberi saran.

Penderita penyakit jantung wajib menjalankan pola hidup sehat baik yang sudah pernah mengalami serangan jantung maupun yang berisiko. Makanan dan aktivitas fisik sangat penting diperhatikan oleh penderita penyakit jantung. Selain itu, mereka harus menjaga mood tetap stabil dan menghindari depresi yang bisa memperburuk kondisi.

Call Center : 1-500-799


27/Feb/2015

Mendengar kata bedah jantung, banyak orang yang langsung bergidik nyeri. Padahal, kini teknologi bedah jantung semakin canggih dan noninvasifdengan hasil luka kecil. Waktu perawatan di rumah sakit juga makin singkat.

“Di Indonesia sudah sering dokter melakukan operasi yang sifatnya noninvasif. Bukaan lukanya kecil dan sakit yang ditimbulkannya juga kecil jika dibandingkan dengan operasi terbuka,” kata dr. Hariadi Hadibrata, spesialis bedah toraks dan kardiovaskular dalam acara Living with Heart Disease di Jakarta (24/2).

Ia menjelaskan, secara umum ada tiga jenis bedah jantung. Yang pertama adalah operasi pintas pembuluh darah atau biasa disebut bedah bypass. “Tujuan operasi ini membuat saluran darah baru karena yang lama tersumbat,” papar dokter dari Bunda Heart Centre Jakarta ini.

Operasi kedua adalah operasi perbaikan atau ganti katup jantung. Biasanya dilakukan kalau ada kelainan, baik karena infeksi atau rusak, sehingga jantung tidak bisa menutup sempurna. Akibat kondisi ini alirah darah yang seharusnya searah menjadi bolak balik.

Terakhir adalah operasi jantung bawaan yang bertujuan untuk menutup celah dengan selaput yang berasal dari jantung sendiri. Biasanya operasi ini dilakukan pada anak-anak.

Untuk operasi bypass, saat ini sudah bisa dilakukan dengan alat atau mesin yang berfungsi menggantikan fungsi jantung selama proses operasi.

“Alat-alat yang dipakai dalam operasi kini semakin baik, dengan bantuan kamera yang bisa membantu dokter,” kata Hariadi.

Jika dulu operasi bypass dilakukan dengan mengambil pembuluh darah di kaki dengan bekas luka cukup besar, saat ini dokter cukup memasukkan alat dengan membuka luka berdiameter sekitar 2 sentimeter. “Kalau operasi konvensional perlu bukaan sampai 20 cm, dengan noninvasif hanya perlu 1-2 sentimeter,” paparnya.

Selain itu, waktu perawatan di rumah sakit juga berlangsung lebih singkat. “Operasinya mungkin sekitar 3-4 jam, lalu selama 1 sampai 2 hari pasien di ICU dan dua hari pindah ke ruangan untuk menjalani fisioterapi. Setelah itu boleh pulang,” katanya.

 

Call Center : 1-500-799


25/Feb/2015

Bagi para penikmat kopi, tidak ada nikmat yang paling indah selain bisa menyeruput pahitnya kopi di pagi hari. Bahkan rutinitas ini bisa jadi penyemangat seseorang untuk memulai aktivitasnya.

Tak hanya itu, meski pahit, kopi pun tetap digandrungi karena dipercaya bisa memulihkan suasana hati yang sedang risau bagi para pencintanya. Aromanya yang khas pun bisa membangkitkan semangat.

Karenanya, pencinta kopi bisa mengonsumsi lebih dari segelas setiap harinya. Parahnya bisa lebih dari tiga atau lima gelas per hari.

Sekalipun banyak manfaatnya, Anda tetap harus sadar bahwa segala sesuatu yang berlebihan pasti punya efek buruk untuk tubuh. Banyak orang berpendapat bahwa terlalu banyak minum kopi bisa menyebabkan sakit jantung. Benarkah?

Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Bunda Heart Centre, Hariadi Hadibrata, mengatakan kopi tidak menyebabkan penyakit jantung. Kafein pada kopilah yang bisa memengaruhi jantung. Namun ini bukan penyebab utama penyakitnya, melainkan hanya memperparah kondisi orang yang sudah memiliki penyakit jantung.

“Di dalam kopi ada kafein yang membuat denyut jantung lebih cepat. Kalau peminum kopi punya riwayat penyakit jantung koroner, itu bisa berbahaya,” kata Hariadi ketika ditemui usai acara Living With Heart Disease di Hotel Hermitage, Jakarta Pusat.

Dalam kondisi normal, denyut jantung seseorang bisa mencapai 80 denyut/menit, kalau minum kopi bisa sampai 100 denyut/menit. Bagi seseorang yang memiliki penyakit jantung atau penyempitan pembuluh darah, suplai darah ke seluruh tubuh akan berkurang. Namun, konsumsi kopi yang berlebihan akan menyebabkan jantung bekerja lebih cepat dan keras.  Hal inilah yang dapat menyebabkan kondisi berbahaya.

“Itulah sebabnya mengapa orang yang menderita penyakit jantung koroner atau penyempitan pembuluh darah tidak dianjurkan minum kopi secara berlebih,” paparnya.

Hariadi pun menganjurkan, bagi penikmat kopi yang juga memiliki riwayat penyakit jantung harus mengurangi konsumsi kopi per harinya.

“Kalau minum secangkir enggak terlalu berefek. Kalau sudah tiga cangkir, itu bisa berbahaya,” ucapnya.

 

Call Center : 1-500-799


27/Jan/2015

Bagi sebagian masyarakat, ketika mendengar nama Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Jakarta, mungkin yang langsung terlintas di benak adalah rumah sakit yang khusus melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja. Padahal meskipun sama-sama berada di bawah naungan Bunda Medik Healthcare System (BMHS), antara RSU Bunda Jakarta dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda memiliki perbedaan konsep.

Dijelaskan Dr. Didid Winnetouw selaku Kepala RSU Bunda Jakarta, rumah sakit yang berdiri sejak tahun 2012 ini tidak hanya melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja, melainkan juga melayani kesehatan yang lebih umum. Selain itu dalam memberikan pelayanan kesehatan, rumah sakit yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat ini juga selalu mengedepankan fasilitas berbasis teknologi mutakhir.

“Setiap tiga sampai enam bulan sekali, RSU Bunda Jakarta akan mengembangkan pelayanan terbaru. Ini dilakukan untuk semakin mengukuhkan diri sebagai rumah sakit yang tidak hanya melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja,” kata Dr. Didid Winnetouw di RSU Bunda Jakarta, baru-baru ini.

Salah satu layanan unggulan yang dikembangkan RS Bunda Jakarta adalah Senior Clinic, yaitu layanan khusus untuk pasien geriatri atau orang lanjut usia dengan beberapa penyakit dan masalah biopsikososial.

Didid menjelaskan, Senior Clinic RSU Bunda Jakarta memberikan pelayanan kepada para lansia yang memiliki penyakit terkait proses penuaan (degeneratif), mengonsumsi lebih dari enam jenis obat sekaligus, memiliki masalah nutrisi, riwayat jatuh berulang atau kemandirian yang berkurang. Berbagai persoalan tersebut akan ditangani oleh tim ahli yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam ahli geriatri, spesialis saraf, rehabilitasi medik, psikolog, dan ahli lain yang bekerja secara terpadu.

Untuk menangani masalah luka, terutama luka kronik yang tidak kunjung sembuh, RSU Bunda Jakarta membuka Wound Care Unit. Menurut Didid, metode perawatan luka yang dilakukan adalah dengan mengaplikasikan berbagai teknik, bahan perawatan luka, hingga balutan modern untuk memfasilitasi penyembuhan luka yang lebih baik.

Beberapa jenis luka yang umum ditangani seperti luka akibat trauma, luka post operasi yang bermasalah, luka terinfeksi, luka kronis, luka bakar, luka diabetes, luka dekubitus, stoma, dan luka akibat vena statis atau arterial.

Khusus penyakit jantung, rumah sakit ini juga membuka layanan “Bunda Heart Centre” yang didukung oleh peralatan diagnostik canggih dan terkini. Dijelaskan Didid, layanan jantung terpadu ini menyediakan skrining, diagnosis, dan terapi konvensional serta intervensi untuk kondisi-kondisi seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan gangguan irama jantung.

Yang paling mutakhir adalah pengembangan layanan Robotic Surgery yang sudah diperkenalkan RSU Bunda Jakarta sejak 2012. Direktur Pengembangan Produk dan Teknologi PT BundaMedik, yang juga merupakan tim dokter Advanced Robotic and Minimally Invasive Surgery (ARMIS), Ivan R Sini mengungkapkan, Robotic Surgery merupakan pembedahan yang menggunakan teknologi tangan robot yang menjadi kepanjangan tangan dokter bedah. Tindakan ini dinilai lebih efektif, efisien, dan menguntungkan bagi pasien, karena dapat mengurangi luka sayatan dan meningkatkan ketepatan serta akurasi yang tinggi. “Bedah robotik dapat mengurangi risiko cedera, dapat mencakup daerah-daerah yang sulit terlihat, dan meminimalkan trauma pasca operasi,” jelas Ivan.

Keberadaan teknologi ini juga bisa menjadi alternatif bagi pasien bedah yang ingin melakukan bedah robotik di luar negeri. “Daripada ke luar negeri, mengapa tidak melakukannya di Indonesia saja. Kualitas tenaga kesehatan dan kedokteran serta fasilitas kita tidak kalah dari negara lain,” tambah Ivan.

Di RS Bunda Jakarta, kasus operasi yang ditangani dengan bedah robotik antara lain mioma, kista endometriosis, operasi prostat, angkat rahim, kanker rahim, dan pembedahan usus.

 

Call Center : 1-500-799


24/Sep/2013

Selama ini masyarakat sudah mengenal bahwa Rumah Sakit Bunda (RSB) identik dengan rumah sakit khusus ibu dan anak. Tapi kini, sudah ada layanan baru yang dipersembahkan RS Bunda, yaitu layanan khusus penyakit jantung yang diberi nama `Bunda Heart Centre`.

Kepala RSU Bunda, Dr. Didid Winnetouw mengatakan, Bunda Hearth Centre dilengkapi dengan peralatan radiologi dianostik mutakhir, yang didukung sepenuhnya oleh Philips, Mulai dari CT-scan 128 slice, MRI 1,5 Tesla, serta peralatan radiologi standar seperti X-Ray dan USG.

“Selain itu, Bunda Hearth Centre dilengkapi juga dengan catch-lab dan kamar bedah jantung, dengan tingkat sterilisasi tinggi,” kata Didid Winnetouw, dalam acara Grand Opening Bunda Heart Centre di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2013)

Lebih lanjut ia mengatakan, pihak RS Bunda berharap dengan adanya layanan ini, kasus jantung dapat dilayani semaksimal mungkin dengan sistem one stop service. “Artinya, pasien datang mulai dari cek-up, pemeriksaan dasar, tindakan kateterisasi hingga bedah terbuka dan perawatan ICCU bisa dilakukan di sini,” tambah dia.

Untuk tindakan operasinya sendiri, Spesialis Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV mengatakan, RS Bunda akan melakukan beberapa tindakan operasi. Mulai dari by pass, penggantian katut (katut mitral dan aorta) sampai melakukan operasi jantung pada anak-anak.

“Kelainan jantung pada anak-anak yang dimaksud yaitu kelainan jantung bawaan. Selain itu, kebocoran pada jantung juga,” jelas Hariadi.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian terbesar di dunia saat ini disebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Pada tahun 2002, sepertiga kematian di seluruh dunia disebabkan penyakit kardiovaskular. Bahkan di negara maju, dapat mencapai setengahnya.

Penyakit jantung dapat disebabkan karena kelainan bawaan, penyakit jantung rematik, hipertensi atau penyakit paru.

 

Call Center : 1-500-799




Saving Lives With BUNDA





Saving Lives With BUNDA





1-500-799


24/7 EMERGENCY NUMBER

Hubungi kami sekarang jika Anda dalam kebutuhan darurat medis, kami akan menjawab dengan cepat dan memberi Anda bantuan medis.




Copyright by Bunda Heart Centre 2019 – BMHS1973



Copyright by Bunda Heart Centre 2019 – BMHS1973