Bunda Heart Centre : Halau Serangan Jantung Mendadak

...

Bunda Heart Centre : Halau Serangan Jantung Mendadak

Mei 11, 2019 by adminbhc
kateterisasi-bundaheartcentre-1500x997-1200x798.jpg

Dengan pemahaman akan faktor risiko, gejala, dan melakukan perawatan, kematian akibat serangan jantung mendadak atau sudden cardiac death (SCD) pada usia muda dapat dihindari.

Serangan terhadap jantung tidak hanya mengancam mereka yang berusia tua. Mereka yang masih muda pun bisa mendapat serangan mematikan ini. Ya, walaupun jarang mereka yang berusia di bawah 35 tahun juga dapat mengalami kematian mendadak karena serangan jantung.

Kematian mendadak biasanya akibat cacat jantung tersembunyi atau kelainan jantung yang diabaikan. Kematian mendadak ini lebih sering terjadi saat sedang melakukan aktivitas fisik, contohnya saat berolahraga atau sedang beraktivitas sehari-hari.

Sudden cardiac death yang dapat disebabkan beberapa hal. Pertama, Hypertrophic cardiomyopathy (HCM), yakni kelainan jantung akibat adanya penebalan abnormal otot jantung (miokardium), sehingga sulit bagi jantung untuk memompa darah. Kedua, kelainan arteri koroner. Kondisi ini mengganggu aliran darah ke otot jantung. Ketiga, Long QT syndrom. Seseorang dengan kelainan ini memiliki gangguan irama jantung bawaan yang dapat menyebabkan detak jantung kacau. Biasanya genetik atau karena obat tertentu. Keempat, miokarditis atau peradangan otot jantung.

GEJALA DAN FAKTOR RISIKO

Beberapa faktor risiko yang bisa memicu serangan jantung dan harus diwaspadai diantaranya kebiasaan merokok, hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Sementara gejala yang umumnya tampak atau terasa adalah nyeri di dada atau napas pendek-pendek, sekitar sebulan sebelum terjadinya serangan.

Tak hanya itu gejala lain dapat berupa:

  • Pingsan tanpa sebab. Tiba-tiba pingsan tanpa sebab saat sedang melakukan aktivitas fi sik bisa menjadi tanda adanya masalah dengan jantung.
  • Adanya riwayat keluarga dengan kematian jantung mendadak. Ini memang bukan gejala fi sik, tetapi penting diperhatikan. Akan lebih baik, jika Anda berkonsultasi pada dokter untuk melakukan skrining.

PENCEGAHAN

Dengan mengetahui gejala dan faktor risiko, untuk mencegah serangan jantung, maka harus dilakukan

pemeriksaan kesehatan (medical check up). Selain itu diperlukan juga kesadaran diri dengan memodifikasi gaya hidup dari yang tidak sehat menjadi lebih sehat.

Berkonsultasi kepada dokter juga merupakan langkah tepat. Dokter biasanya akan menyarankan untuk menghindari olahraga yang bersifat kompetisi jika terdiagnosa ada gangguan jantung.

Pilihan lainnya, bagi penderita dengan risiko untuk kematian jantung mendadak dilakukan pemasangan alat Implantable Cardioverter Defi brillator (ICD) untuk memonitor detak jantung. Jika aritmia yang mengancam jiwa terjadi, secara otomatis alat akan memberikan sengatan listrik untuk mengembalikan detak jantung ke irama normal. Penting Anda mengetahui sebatas mana bisa berolahraga, jenis olahraga apa yang tepat untuk kondisi kesehatan Anda, dan sebagainya. Namun, bukan berarti Anda harus menghindari semua aktivitas fi sik dan hanya berdiam diri.

Call Center : 1-500-799

Dengan pemahaman akan faktor risiko, gejala, dan melakukan perawatan, kematian akibat serangan jantung mendadak atau sudden cardiac death (SCD) pada usia muda dapat dihindari. Serangan terhadap jantung tidak hanya mengancam mereka yang berusia tua. Mereka yang masih muda pun bisa mendapat serangan mematikan ini. Ya, walaupun jarang mereka yang berusia di bawah 35 tahun juga dapat mengalami kematian mendadak karena serangan jantung. Kematian mendadak biasanya akibat cacat jantung tersembunyi atau kelainan jantung yang diabaikan. Kematian mendadak ini lebih sering terjadi saat sedang melakukan aktivitas fisik, contohnya saat berolahraga atau sedang beraktivitas sehari-hari. Sudden cardiac death yang dapat disebabkan beberapa hal. Pertama, Hypertrophic cardiomyopathy (HCM), yakni kelainan jantung akibat adanya penebalan abnormal otot jantung (miokardium), sehingga sulit bagi jantung untuk memompa darah. Kedua, kelainan arteri koroner. Kondisi ini mengganggu aliran darah ke otot jantung. Ketiga, Long QT syndrom. Seseorang dengan kelainan ini memiliki gangguan irama jantung bawaan yang dapat menyebabkan detak jantung kacau. Biasanya genetik atau karena obat tertentu. Keempat, miokarditis atau peradangan otot jantung.

GEJALA DAN FAKTOR RISIKO

Beberapa faktor risiko yang bisa memicu serangan jantung dan harus diwaspadai diantaranya kebiasaan merokok, hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Sementara gejala yang umumnya tampak atau terasa adalah nyeri di dada atau napas pendek-pendek, sekitar sebulan sebelum terjadinya serangan. Tak hanya itu gejala lain dapat berupa:

PENCEGAHAN

Dengan mengetahui gejala dan faktor risiko, untuk mencegah serangan jantung, maka harus dilakukan pemeriksaan kesehatan (medical check up). Selain itu diperlukan juga kesadaran diri dengan memodifikasi gaya hidup dari yang tidak sehat menjadi lebih sehat. Berkonsultasi kepada dokter juga merupakan langkah tepat. Dokter biasanya akan menyarankan untuk menghindari olahraga yang bersifat kompetisi jika terdiagnosa ada gangguan jantung. Pilihan lainnya, bagi penderita dengan risiko untuk kematian jantung mendadak dilakukan pemasangan alat Implantable Cardioverter Defi brillator (ICD) untuk memonitor detak jantung. Jika aritmia yang mengancam jiwa terjadi, secara otomatis alat akan memberikan sengatan listrik untuk mengembalikan detak jantung ke irama normal. Penting Anda mengetahui sebatas mana bisa berolahraga, jenis olahraga apa yang tepat untuk kondisi kesehatan Anda, dan sebagainya. Namun, bukan berarti Anda harus menghindari semua aktivitas fi sik dan hanya berdiam diri. Call Center : 1-500-799