Bypass atau angioplasti kini menjadi pilihan baru yang menarik bagi penyembuhan penyakit jantung koroner di Indonesia. Namun, Anda mungkin bingung untuk memilih salah satunya. Pasalnya, bypass dan angioplasty memiliki keunggulan dan kekurangan. Lalu seperti apakah dua metode ini?

operasi jantung3Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengobati penyakit jantung koroner di bidang medis. Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang disebabkan penyempitan pembuluh darah jantung (arteri koroner). Penyempitan tersebut terjadi karena adanya kerak (plak) pada dinding pembuluh darah jantung. Akibatnya, aliran darah ke jantung berkurang.

Rasa nyeri di dada yang menjalar ke leher dan lengan sebelah kiri harus diwaspadai sejak dini. Nyeri seperti ditekan ini merupakan gejala awal penyakit jantung koroner. Sakit ini bisa berlangsung selama beberapa menit dan hilang ketika beristirahat. Kondisi ini disebut angina stabil. Ketika sakit terasa lebih sering, berat dan lama, kondisi tersebut telah berpindah ke angina tak stabil. Situasi ini adalah kondisi sebelum terjadinya serangan jantung. Namun sering kali serangan jantung terjadi secara mendadak, tanpa gejala apapun sebelumnya.

Kerak pada pembuluh darah jantung tak lain dikarenakan pola hidup seseorang yang salah. Kadar kolesterol total (LDL) yang tinggi, kadar kolesterol (HDL) rendah, tekanan darah tinggi, diabetes, merokok, kurang olahraga, kegemukan, keturunan, umur dan stres menjadi penyebab penyakit jantung koroner. Oleh sebab itu penting sekali menerapkan pola hidup yang sehat agar tidak mudah terserang penyakit. Akan tetapi ketika tindak pencegahan tidak lagi mampu mengatasi penyakit, tindakan lainnya seperti operasi terkadang harus ditempuh. Dalam mengatasi jantung koroner, ada dua metode yang biasa digunakan. Metode tersebut adalah bypass, dan angioplasti.

BYPASS

Bypass atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG) adalah operasi membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau kerusakan. Mudahnya, membangun jalan pintas. Kurangnya pasokan darah serta oksigen akibat penyempitan pembuluh darah tersebut pun dapat teratasi. Biasanya saluran baru diambil dari pembuluh darah balik di tungkai bawah. Contohnya vena saphena. Tapi dapat juga diperoleh dari pembuluh nadi di tangan seperti arteri radialis atau arteri brachialis.

ANGIOPLASTI

Selain bypass, angioplasti dapat menjadi pilihan mengatasi jantung koroner. Berbeda dengan bypass yang perlu dilakukan pembukaan dada, angioplasty hanya memerlukan dua sayatan kecil. Sayatan kecil itu dilakukan di kulit pangkal paha atau pergelangan lengan. Bius pun hanya bius lokal. Kateter lalu diselipkan melalui sayatan tersebut ke pembuluh koroner. Dengan petunjuk sinar X, dimasukkan kawat kecil lentur pada kateter. Lewat kawat itu diselipkan balon yang dapat dikembang kempiskan. Di lokasi penyempitan, balon dikembangkan hingga penyempitan terbuka dengan tekanan tertentu. Setelahnya, balon dikempiskan dan dikeluarkan.

Tindakan ini biasanya dilanjutkan dengan pemasangan cincin penyangga (stent). Umumnya terbuat dari baja anti karat, stent berfungsi menekan terjadinya penyempitan ulang. Ukurannya ada berbagai macam, dari 2,25 sampai empat milimeter. Ada yang bentuknya bergulung-gulung atau sangkar. Kini metode stent di bidang kedokteran telah mengalami perkembangan. Stent dilapisi obat untuk mencegah tumbuhnya jaringan baru. Contohnya, Sirolimus dan Paclitaxel.

DUA METODE, MANA LEBIH BAIK?

Dalam mengobati penyakit jantung koroner, bypass dan angioplasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua tergantung pada jumlah pembuluh yang terlibat, lokasi dan karakter penyempitan, fungsi jantung, penyakit penyerta, usia serta biaya.

Metode bypass lebih cocok dipakai ketika penyumbatan terjadi pada lebih dari tiga pembuluh darah. Atau terjadi di pembuluh utama kiri. Dari segi waktu pun tidak bersahabat bagi penderita yang ingin cepat keluar dari rumah sakit. Namun pada bypass, peluang terjadinya penyempitan lagi lebih kecil dibanding angioplasti.

“Jika di dalam pembuluh darah itu terdapat tiga atau lebih yang bermasalah, maka kita rekomendasikan untuk bypass. Atau hanya satu pembuluh darah namun memiliki sumbatan yang panjang. Itu lebih baik kita lakukan bypass. Tetapi kalau hanya satu dan panjang sumbatan hanya satu hingga lima centimeter , maka kita lakukan pemasangan ring,” tandas dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV.

Tambah Hariadi, selain faktor sumbatan, pemilihan metode juga melihat faktor usia, kompetensi dokter, dan tentunya cost.

“Pasien dengan usia 80 tahun, sebaiknya kita pasang stent daripada bypass. Karena nanti akan berisiko. Kompetensi dokter dan kondisi pasien perlu diperhatikan. Pada umumnya kita juga melihat cost effetive-nya. jika kita pasang lebih dari tiga stent, lebih baik bypass,” jelasnya.

Angioplasti sering menjadi pilihan bagi penderita yang takut tindakan operasi. Cukup dengan bius lokal, operasi ini berlangsung cepat. Risiko komplikasi yang terjadi relatif lebih rendah. Namun dengan cara ini besar kemungkinan penyempitan kembali terjadi. Selain itu angioplasty kurang efektif pada penderita diabetes yang memiliki dua atau lebih penyumbatan pembuluh darah.

“Pemasangan stent dan bypass bukan untuk saling menggantikan. Jadi ada beberapa kriteria yang harus kita lakukan. Apakah itu untuk bypass atau pasang stent. Kalau menguntungkan operasi, risiko lebih rendah efektivitas lebih tinggi, kita lakukan operasi. karena untuk jangka panjang kita membentuk saluran baru itu lebih efektivitas, dibandingkan yang lama kita buka-buka,” akhirnya.

 

Layanan Bunda Heart Centre RS Bunda Jakarta  : 021 – 3192 3344 ext. 6214
Appointment Doctor Hubungi Call Center : 1-500-799 

logo